Posted by

Tuhan tidak tega melihat orang baik terlalu lama berada di dunia, maka cepat-cepat Dia ambil ke sisinya. Tuhan selalu baik terhadap orang baik, tidak seperti dunia.

- Untuk Risma Safitri. Ibumu akan berada di sisi yang terbaik, Insya Allah. Cheer UP soon! :)

Not In The Mood ? Read This :D

Akhir-akhir ini, saya sedang membaca buku berjudul “Dahsyatnya Berperasaan Positif” karangan Dr. Ibrahim Elfiky. Buku ini membahas tentang bagaimana perasaan akan sangat mempengaruhi keberjalanan aktivitas sepanjang hari.

Di sebuah bab, saya menemukan sebuah cerita menarik, sekaligus inspiring, sehingga ingin saya share. Ini sepenuhnya saya copy-paste. Selamat membaca :D

_______________________________________________________________________________________________________

Alkisah, seorang pemuda mendatangi seorang bijak bestari di Cina. Ia berharap orang itu mengajarinya arti kebijaksanaan supaya bisa mengendalikan perasaan. Orang-orang bilang, “Orang bijak tersebut tinggal di puncak gunung. Jika ia menemuimu, engkau beruntung sekali.”

Tanpa mengulur waktu, pemuda itu berangkat. Pesawat tinggal landas membawanya ke sana. Setiba di tempat itu, ia menunggu. Orang-orang di sana bilang, si Bijak akan menemuinya. Ia pun melangkah pasti. Pintu rumahnya ia ketuk. Ia diminta menunggu. Tak terasa tiga jam berlalu, tapi si Bijak tidak juga muncul. Seorang wanita tua keluar dari rumah itu dan memberi tahu bahwa si Bijak yang ditunggu-tunggu ini akan segera datang. Satu jam kemudian, ia baru muncul. Pemuda itu benar-benar kesal. Setelah duduk di sampingnya, si Bijak bertanya,

“Mau minum teh?”

Pemuda itu tambah marah. “Orang gila ini membiarkanku menunggu tiga jam di luar,” katanya membatin. “Tidak hanya itu, ia juga membiarkanu menunggu satu jam di sini. Tapi, tak ada tanda-tanda penyesalan. Tiba-tiba ia menawariku teh.”

Suara si Bijak memecah keheningan,

“Mau minum teh?”

Karena ditawari berkali-kali, pemuda itu menjawab, “Ya, bolehlah.” Tidak lama kemudian, seorang perempuan membawakan seteko besar teh. Si Bijak berkata, “Mau kutuangkan?” Pemuda itu menjawab, “Silakan.” Si Bijak kemudian menuangkan teh ke cangkir pemuda itu hingga penuh, bahkan meluap dan membasahi meja. Pemuda itu marah besar. Ia berdiri dan berkata, “Apa yang anda lakukan kepada saya?! Apa anda gila?!”

Si Bijak menatapnya tajam. Dengan datar ia berkata, “Kita sudahi pertemuan ini. Temui aku setelah cangkirmu kosong.” Setelah itu ia pergi. Pemuda itu mulai mengerti. Ia berkata dalam hati, “Aku telah menyia-nyiakan waktu. Setelah memperlakukanku begini, kubiarkan ia pergi begitu saja. Aku harus mengubah sikapku kepadanya.” Pemuda itu berkata kepada si Bijak, “Maafkan saya. Saya datang dari ujung dunia, berharap Anda mengajari saya sesuatu yang bermanfaat.” Si Bijak berkata, “Agar hidup di dunia ini bergulir dengan cara yang positif, engkau harus memperhatikan cangkirmu.”

“Maksudnya?” tanya pemuda itu tidak mengerti.

Si Bijak melanjutkan, “Ketika kami membiarkanmu selama empat jam, bagaimana perasaanmu?”

“Semula baik-baik saja,” jawab si pemuda. “Lama-lama saya mulai dongkol, bahkan hampir meledak. Tetapi, saya bertekad menemui Anda.”

“Bagaimana perasaanmu ketika kami membiarkanmu sejam di dalam rumah?” tanya si Bijak lagi.

“Saya tambah marah,” jawab si pemuda.

Si Bijak bertanya lagi, “Ketika aku menuangkan teh, mungkinkah volume yang kutuangkan lebih banyak dari kapasitas cangkir yang ada?”

“Tidak,” tukas si pemuda.

“Jika terus dituangkan, apa yang terjadi?” desak si Bijak.

Pemuda itu menjawab, “Teh akann membanjiri seluruh pelataran meja.”

“Begitulah yang terjadi pada perasaanmu,” kata si Bijak. “Engkau datang menemui kami dengan cangkir kosong. Kami mengisinya hingga meluap, dan ini menyebabkan penyakit merongrongmu. Jika ingin hidup bahagia, engkau harus memperhatikan cangkirmu. Jangan biarkan orang lai mengisinya tanpa seizin darimu.”

Si pemuda, mengangguk. Mengerti.

Selang beberapa lama, si Bijak berkata lagi, “Engkau harus membayarku seribu dolar.”

_______________________________________________________________________________________________________

Hahaha. Menarik kan ?

Intinya, masalah di dunia udah terlalu banyak. Dunia diciptakan bersama masalah di dalamnya. Tidak ada yang bisa kita ubah tentang itu. Tapi jangan biarkan masalah-masalah itu merusak perasaan kita. Biarlah itu menjadi air-air teh yang tumpah, tapi tidak ke dalam cangkir kita.

Ada dua cara menanggapi hal ini. Kita bisa membuat cangkir kita berlubang, jadi air yang dituang tidak akan mengisi apapun ke dalam cangkir, yang artinya, setiap masalah kita anggap angin lalu yang tidak membebani perasaan. Atau kita bisa memperbesar cangkir kita, sehingga ia tidak akan penuh dan meluap, yang dengan analogi yang sama adalah memperbesar hati. Karena hati yang besar bisa menerima masalah yang lebih banyak, dan tidak meluap :D

Karena, masih menurut Dr. Ibrahim Elfiky, perasaan itu bahan bakar perilaku. Perasaan yang positif akan melahirkan perilaku yang positif pula.

Jadi,

mari kuasai mood sepanjang waktu : )

“Jangan Mengobrol Dengan Orang Asing !” | Siapa Bilang ?

(27 Mei 2011)

Hari ini benar-benar penuh inspirasi.

PLO hari ini jalan-jalan keliling Bandung. Saya sekelompok mendapat rute ke Pasar Kosambi, Masjid Agung, kemudian BIP. Di tiap pos, kami diperintahkan untuk mewawancarai satu orang yang merepresentasikan daerah kunjungan kami mengenai:

1. Apa itu mahasiswa,

2. peran mahasiswa di masyarakat,

3. citra mahasiswa sekarang,

4. harapan terhadap mahasiswa.

Saya mahasiswa, dan saya sadar pertanyaan ini bakal menyangkut pada sesuatu dalam diri saya. Markicob. Mari kita coba.

Di Pasar Kosambi, saya berhasil mewawancarai seorang pedagang baju bola tepat di gerbang masuk pasar. Bapak ini cukup semangat ketika saya dan teman saya, Fauzan, mulai bertanya tentang mahasiswa.

“Mahasiswa itu murid yang sekolah tinggi ya. Mereka seharusnya lebih pintar dari kami-kami ini.”

“Yah, tapi zaman sekarang sih pengalaman dan pendidikan di lapangan lebih penting daripada sekedar teori. Banyak juga kok lulusan perguruan tinggi yang akhirnya jadi kayak kami-kami lagi, dagang di pasar. Saya sih udah dari keturunan pedagang semua, jadi saya dagang langsung setelah lulus SMA. Ya Alhamdulillah keluarga masih bisa hidup sekarang.”

“Mas-mas ini kuliah di mana ?”

“ITB, mas.”

“Waaah. Saya punya anak, sekarang 1 SD. Pengen juga saya nyekolahin anak saya di sana kalo biaya ada. Hahaha.”

“Harapannya sih mahasiswa sekarang lebih belajar praktek ke lapangan, daripada belajar banyak teori. Yaaa zaman sekarang tuntutannya lebih ke lapangan sih mas ya.”

Begitu ujar pedagang tersebut. Ulasannya di akhir aja ya, biar kerasa sense post ini. Hehe.

—————————————————————————————————————————————————————————-

Lanjut ke Masjid Agung. Masih topik yang sama, pertanyaan yang sama, tapi beda subjek. Saya berhasil mengobrol dengan seorang penjaga sepatu di pintu masuk depan. Jawabannya cukup menarik, terlihat bapak ini cukup tertarik dengan hal pendidikan.

“Mahasiswa itu orang yang kuliah di perguruan tinggi.”

“Tapi mahasiswa sekarang yang keliatan cuma demo-demo ga jelas, ujung-ujungnya anarkis. Saya sampe miris ngeliatnya. Ga punya idealisme.”

“Saya kebetulan punya anak, dia sekarang semester 6 di akademi manajemen di Yogyakarta. Alhamdulillah dia kuliah di sana dapet beasiswa penuh. Saya ga perlu bayar apa-apa untuk dia kuliah di sana.”

“Mahasiswa harapan saya, seharusnya bisa menjadi agen perubahan di masyarakat. Bisa menjadi bagian masyarakat paling memiliki idealisme, dan dengan idealismenya itu membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk Indonesia.”

Sekian.

Lebih menggugah hati kan ? Luar biasa.

—————————————————————————————————————————————————————————-

Lanjut ke BIP. Bandung Indah Plaza. Ya, dengan subjek yang jauh lebih random, tapi dengan pertanyaan yang sama. Fisik mulai cape, agak mulai males nyari-nyari orang yang agak bersahabat sebenernya. Akhirnya saya naik ke atas, ke bioskop. Berharap ada orang yang lagi nunggu film mulai, jadi bisa ditanya. Eh ketemunya banyak cowo cewe berduaan -______- bikin iri. Setelah mondar-mandir kira-kira 15 menit, akhirnya terlihat seorang pemuda sedang duduk sendirian, membaca sebuah brosur. Saya memutuskan untuk menanyai beliau.

“Mahasiswa itu orang yang ga biasa, seharusnya bisa menjadi agen perubahan. Tapi mahasiswa ITB sekarang sudah mengalami penurunan, salah satu penyebabnya adalah penerimaan siswa baru melalui jalur USM. Kalau dilihat dari awal dicetuskannya ide USM, penerimaan siswa baru melalui USM tu hanya 30%, 70% melalui SPMB. Sekarang porsinya malah terbalik. Ga bisa dipungkiri kan mahasiswa yang masuk melalui USM kaya-kaya ?”

“Apa pengaruhnya USM ? Harga USM yang mahal mendorong mahasiswa dan terutama orangtua untuk sangat menjunjung tinggi kuliah, kadang terasa menekan. Bidang kemahasiswaan jadi kurang tersentuh. Akibatnya, floating mass di ITB semakin banyak. Floating mass ini keliatan banget pas pemira. Mereka ga tau apa-apa, tapi jumlahnya besar. Fatal akibatnya kalau ga dikontrol.”

“Harapan saya untuk mahasiswa sekarang, bisa lebih memaknai peran mereka sebagai mahasiswa. Lebih tahu masalah bangsa. Sebenernya Indonesia bisa maju cuma dengan 2% wirausahawan. Yang Indonesia punya sekarang hanya 0,05%. Akan sangat baik bila mahasiswa mengembangkan sikap wirausaha sejak dini.”

Pengetahuan tentang ITB-nya luas ! Ah, sayang harus selesai wawancaranya, udah dipanggil buat gabung lagi. Masih banyak yang pengen ditanya padahal. FYI: Dia AE ITB 2007.

Makin beragam aja kan jawabannya. Bikin semangat gila.

—————————————————————————————————————————————————————————-

Dahsyat. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti itu, ditayain ke orang asing, jawabannya seberagam itu, membuat saya tergugah.

Dari pedagang pasar Kosambi, memandang mahasiswa sebagai orang terpelajar, mengemukakan harapannya terhadap mahasiswa untuk terjun ke lapangan. Penjaga sepatu di Masjid Agung, yang memiliki anak berstatus mahasiswa juga, memandang citra mahasiswa sekarang seperti banteng lepas, demonstrasi tanpa idealisme kerap dilakukan, bahkan sering anarkis, mengatakan harapannya agar mahasiswa menjadi agen perubahan. Sampai mahasiswa tingkat akhir yang sangat kebetulan saya temui di BIP, mengutarakan masalah mahasiswa ITB secara khusus, seakan merangkum semua yang sudah saya dengar dari hasil wawancara sebelumnya.

“Lihat, masyarakat masih banyak berharap sama kamu.” seakan otak saya berbisik.

Terasa klise ya ? Mahasiswa itu agen perubahan ! Masyarakat butuh mahasiswa ! Ingat ada kata maha di depan kata siswa, kalian harus jadi siswa maha yang kontrobutif untuk masyarakat ! Bla bla bla. Keseringan denger kalimat gitu jadi kerasa non sense.

Tapi dengan terjun langsung ke masyarakat seperti ini, kalimat-kalimat klise di atas jadi terasa berarti. Masyarakat memang butuh mahasiswa. Saya mahasiswa. Mereka masyarakat.

Berdiam diri ketika orang membutuhkan saya ?

Panggil saya penjahat.

Satu kata yang bagus untuk menggambarkan post ini.

.

.

KONTRIBUSI.

.

.

mungkin lebih sering mencoba mengobrol dengan orang asing akan menjadi hal yang baikĀ  : )

Saya adalah magnet.
yang mendekat ketika kamu mendekat,
tapi tetap diam ketika kamu menjauh.
Apa kamu begitu ?

Berhari-hari diam di rumah gara-gara sakit. Ga enak. Ga biasa. Biasanya pulang jam 11 malem, orang-orang udah tidur, nyampe rumah tidur juga, pagi-pagi berangkat, bahkan di hari sabtu minggu.

Mungkin ini cara Allah mengingatkan saya. Saya punya rumah, bukan tempat transit. Saya punya orangtua, bukan pengasuh. Saya punya kamar, bukan hotel.

Diam di rumah ternyata nyaman : )

.

Ga ada kerjaan, akhirnya saya buka blog temen-temen saya. And cool. Mereka menggunakan blog nya dengan baik. Sebut saja Gici, Arief, Uli, Wildan, Baje, dan banyak lagi. Blog mereka ga ditelantarkan, tapi diisi.

Ini bikin saya sadar kalo blog itu dibuat dengan tujuan membagi. Membagi pengalaman, membagi perasaan. Jujur saya terinspirasi pas baca blog-blog mereka.

Saya sering mikir, kehidupan saya di kuliah tidak segemilang di SMA. Tidak tenar, mungkin. Mungkin itu penyebabnya, saya jarang nulis lagi. Jarang baca buku lagi. Pikiran saya stuck, stagnan, tidak sedinamis dulu.

Mungkin mulai sekarang saya bakal lebih sering baca buku, sering baca post dahulu saya, lebih sering ngobrol serius sama orang, lebih sering baca blog-blog orang hebat, dan, lebih sering nulis.

Mengutip dari blog Uli, “orang-orang hebat pasti menulis.”

Mari kita lihat apa yang bisa saya lakukan ke depan.

Rumah

Aku kenal sebuah rumah, rumah yang nyaman.
Bukan ditinggali, bahkan melihatnya pun sudah membuat nyaman.
Belum pernah aku masuk ke dalamnya, jadi belum tahu apakah interiornya senyaman eksteriornya.

Sudah cukup lama juga aku kenal, baru sekarang tertarik masuk ke dalamnya.
Mari kita coba.
Dengan niat baik, hati yang mantap, aku datang.
Demi Tuhan, nyaman sekali berada di dekatnya.

Kuketuk pintu rumahnya.
Tok tok tok.
Tidak ada jawaban.
Tidak terdengar mungkin, pikirku.

Sekali lagi.
Tok tok tok tok tok.
Terdengar suara orang melangkah, pintu dibukanya sedikit.
Terima kasih Tuhan.

“Ah, kamu ternyata.” Ucap orang di dalam rumah itu.
Kalau eksterior rumahnya ku bilang nyaman, melihat orang ini jauh lebih nyaman.
Luar biasa.
“Hehe.”
Dia kenal aku rupanya.

Bukannya diajak masuk, aku diajaknya mengobrol dari luar. Dia di balik pintu, aku di depan pintu.
Kenapa ? pikirku.
Ya sudahlah, semua ada prosesnya.
Aku mengobrol dengannya. Lama.
Lama.

Tiba-tiba, pintu itu ditutup !
Dia pergi masuk ke dalam, tanpa izin tanpa salam.
Ada apa ini ?
Apa dia bosan ?
Apa aku terlihat terlalu memaksa masuk ?
Apa diriku terlalu kotor untuk masuk ke rumahnya ?
Aku bingung.
Kata apa itu yang sering disebutkan orang ?
Ah ya, aku galau.

Kuketuk lagi pintu itu. Pintu rumah nyaman itu.
Tok tok tok tok tok tok tok.
Tidak ada jawaban.
Kuketuk lagi,
Tok tok tok tok tok tok tok tok tok.
Tidak ada jawaban lagi.
Bahkan ada anjing menyalak-nyalak. Padahal tadi tidak ada.
Bahkan ada angin dingin menyeruak.
Bahkah hujan turun.
Aku diusir ?

Ketukan-ketukan pintuku tak digubris lagi sekarang.
Hujan semakin deras turun.
Hari pun sudah malam.
Sudah lama aku diam di sini.
Aku.. lelah.

Terlalu naif bila aku diam.
Dengan berat hati, kutinggalkan rumah itu.
Rumah nyaman itu.
Kutinggalkan sepucuk surat ini dengan harapan kau membacanya.

Rumahmu kutinggalkan, tapi tetap kukagumi.
Mungkin sesekali akan kupotongi rumput halamanmu ketika ia sudah liar.
Akan ku cat ulang dinding rumahmu ketika ia sudah mulai luntur.
Akan ku lap kaca jendelamu ketika ia sudah terkotori debu.
Semua kulakukan, dari luar, seperti sebelumnya.

Mungkin sesekali ketika ku tengok rumahmu, ada orang lain yang mengetuk pintu rumahmu dan masuk ke rumahmu.
Aku mungkin cemburu, mungkin juga senang.
Aku mungkin menyesal, sulit mencari rumah senyaman itu.
Atau mungkin tidak ada.
Tapi apapun yang terjadi, aku sayang rumah itu, rumah yang berjudul “Hati” di depannya.
Rumahmu tetap akan kupelihara,
kujaga,
dan kukagumi.
Dari luar.

.

.

.

Dari

.

Kejauhan.

.

.

Selamat, kamu orang ketiga yang saya jadikan puisi.

Terima kasih : )

Reincarnation

Wah. Jamuran gini ya blognya.

Isi lagi aah ~

Beri saya inspirasi biar sering nulis ya hehe.

I love you without knowing how..

or when..

or from where.

I love you straightforwardly, without complexities or pride.

I love you because I know no other way than this.

So close..

that your hand on my chest is my hand.

So close, that when you close your eyes..

I fall asleep.

.

- Patch Adams to Carin Fisher in ‘Patch Adams

Wajar. Tapi..

Perubahan fasa itu bukan hal yang mudah. Bahkan ada energi khusus yang diperlukan buat benda untuk berubah fasa kan ?

Itu yg saya rasain sekarang.

Perubahan kondisi, perubahan lingkungan, dinamika dunia yang begitu cepat, memaksa saya untuk berubah sama cepatnya. Tapi ternyata berubah itu ga mudah, butuh energi. Tidak kecil.

Akhir-akhir ini saya sering banget mikir, saya berubah.

Dulu saya selalu semangat kerja, selalu semangat kalo dikasih tugas, selalu punyaa kerjaan. Lah sekarang, dikasih tugas jadi males-malesan. Dikasih amanah diabaikan.

Aneh.

Yang dulu biasanya semangat dan bisa memulai sesuatu, dulu biasanya semangat mikirin orang lain. Sekarang lain..

.

.

Ya, orang bilang berubah itu wajar.

Mungkin gara-gara lingkungan memaksa saya buat adaptasi, saya jadi memaksakan sanguinisme, yang notabene sifat paling adaptable, dalam tubuh saya. Dan rasanya ga nyaman sendiri.

Atau mungkin saya terlalu nyaman sama lingkungan SMA dan ngerasa kepribadian saya pas banget buat lingkungan dulu.

Bahkan teman terbaik saya bilang, “Kamu sekarang beda, mbe. Udah kepengaruh ITB ya ?”.

Ah.

.

Yah, mau sharing aja sih.

Perubahan itu wajar, apalagi di usia segini (15-18 tahun). Labil banget. Tapi saya yakin di tengah kelabilan itu, tubuh kita bakal nyari-nyari sendiri titik yang paling nyaman buat kepribadian kita.

Hm.

.

Tapi saya masih butuh pandangan orang lain.

Apa saya berubah ?

Separah itu ?

Kita baru sadar makna sehat ketika sakit datang.

Kita baru sadar makna teman ketika mereka pergi.

Kita baru sadar makna udara ketika kita sulit bernafas.

Because we don’t know what we got until it’s gone.

.

.

Lalu apakah kita akan baru sadar makna hidup ketika nyawa kita hilang ?

.

Selamat tambah tua, Rahadian Farizi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 468 other followers