Akhir-akhir ini, saya sedang membaca buku berjudul “Dahsyatnya Berperasaan Positif” karangan Dr. Ibrahim Elfiky. Buku ini membahas tentang bagaimana perasaan akan sangat mempengaruhi keberjalanan aktivitas sepanjang hari.
Di sebuah bab, saya menemukan sebuah cerita menarik, sekaligus inspiring, sehingga ingin saya share. Ini sepenuhnya saya copy-paste. Selamat membaca
_______________________________________________________________________________________________________
Alkisah, seorang pemuda mendatangi seorang bijak bestari di Cina. Ia berharap orang itu mengajarinya arti kebijaksanaan supaya bisa mengendalikan perasaan. Orang-orang bilang, “Orang bijak tersebut tinggal di puncak gunung. Jika ia menemuimu, engkau beruntung sekali.”
Tanpa mengulur waktu, pemuda itu berangkat. Pesawat tinggal landas membawanya ke sana. Setiba di tempat itu, ia menunggu. Orang-orang di sana bilang, si Bijak akan menemuinya. Ia pun melangkah pasti. Pintu rumahnya ia ketuk. Ia diminta menunggu. Tak terasa tiga jam berlalu, tapi si Bijak tidak juga muncul. Seorang wanita tua keluar dari rumah itu dan memberi tahu bahwa si Bijak yang ditunggu-tunggu ini akan segera datang. Satu jam kemudian, ia baru muncul. Pemuda itu benar-benar kesal. Setelah duduk di sampingnya, si Bijak bertanya,
“Mau minum teh?”
Pemuda itu tambah marah. “Orang gila ini membiarkanku menunggu tiga jam di luar,” katanya membatin. “Tidak hanya itu, ia juga membiarkanu menunggu satu jam di sini. Tapi, tak ada tanda-tanda penyesalan. Tiba-tiba ia menawariku teh.”
Suara si Bijak memecah keheningan,
“Mau minum teh?”
Karena ditawari berkali-kali, pemuda itu menjawab, “Ya, bolehlah.” Tidak lama kemudian, seorang perempuan membawakan seteko besar teh. Si Bijak berkata, “Mau kutuangkan?” Pemuda itu menjawab, “Silakan.” Si Bijak kemudian menuangkan teh ke cangkir pemuda itu hingga penuh, bahkan meluap dan membasahi meja. Pemuda itu marah besar. Ia berdiri dan berkata, “Apa yang anda lakukan kepada saya?! Apa anda gila?!”
Si Bijak menatapnya tajam. Dengan datar ia berkata, “Kita sudahi pertemuan ini. Temui aku setelah cangkirmu kosong.” Setelah itu ia pergi. Pemuda itu mulai mengerti. Ia berkata dalam hati, “Aku telah menyia-nyiakan waktu. Setelah memperlakukanku begini, kubiarkan ia pergi begitu saja. Aku harus mengubah sikapku kepadanya.” Pemuda itu berkata kepada si Bijak, “Maafkan saya. Saya datang dari ujung dunia, berharap Anda mengajari saya sesuatu yang bermanfaat.” Si Bijak berkata, “Agar hidup di dunia ini bergulir dengan cara yang positif, engkau harus memperhatikan cangkirmu.”
“Maksudnya?” tanya pemuda itu tidak mengerti.
Si Bijak melanjutkan, “Ketika kami membiarkanmu selama empat jam, bagaimana perasaanmu?”
“Semula baik-baik saja,” jawab si pemuda. “Lama-lama saya mulai dongkol, bahkan hampir meledak. Tetapi, saya bertekad menemui Anda.”
“Bagaimana perasaanmu ketika kami membiarkanmu sejam di dalam rumah?” tanya si Bijak lagi.
“Saya tambah marah,” jawab si pemuda.
Si Bijak bertanya lagi, “Ketika aku menuangkan teh, mungkinkah volume yang kutuangkan lebih banyak dari kapasitas cangkir yang ada?”
“Tidak,” tukas si pemuda.
“Jika terus dituangkan, apa yang terjadi?” desak si Bijak.
Pemuda itu menjawab, “Teh akann membanjiri seluruh pelataran meja.”
“Begitulah yang terjadi pada perasaanmu,” kata si Bijak. “Engkau datang menemui kami dengan cangkir kosong. Kami mengisinya hingga meluap, dan ini menyebabkan penyakit merongrongmu. Jika ingin hidup bahagia, engkau harus memperhatikan cangkirmu. Jangan biarkan orang lai mengisinya tanpa seizin darimu.”
Si pemuda, mengangguk. Mengerti.
Selang beberapa lama, si Bijak berkata lagi, “Engkau harus membayarku seribu dolar.”
_______________________________________________________________________________________________________
Hahaha. Menarik kan ?
Intinya, masalah di dunia udah terlalu banyak. Dunia diciptakan bersama masalah di dalamnya. Tidak ada yang bisa kita ubah tentang itu. Tapi jangan biarkan masalah-masalah itu merusak perasaan kita. Biarlah itu menjadi air-air teh yang tumpah, tapi tidak ke dalam cangkir kita.
Ada dua cara menanggapi hal ini. Kita bisa membuat cangkir kita berlubang, jadi air yang dituang tidak akan mengisi apapun ke dalam cangkir, yang artinya, setiap masalah kita anggap angin lalu yang tidak membebani perasaan. Atau kita bisa memperbesar cangkir kita, sehingga ia tidak akan penuh dan meluap, yang dengan analogi yang sama adalah memperbesar hati. Karena hati yang besar bisa menerima masalah yang lebih banyak, dan tidak meluap
Karena, masih menurut Dr. Ibrahim Elfiky, perasaan itu bahan bakar perilaku. Perasaan yang positif akan melahirkan perilaku yang positif pula.
Jadi,
mari kuasai mood sepanjang waktu : )
Keren thank you little brother ga sengaja baca ini dan ini benar sekali, cangkirku masih kecil padahal kamu kan adikku yang lebih muda 2 tahun, sekali lagi thank you bro!
inspiring sekali mbe, terutama untuk seorang melankolis :p
tengkyu. Kenapa minum teh harus dicangkir? kan cuma muat dikit hahaha