Rumah

Aku kenal sebuah rumah, rumah yang nyaman.
Bukan ditinggali, bahkan melihatnya pun sudah membuat nyaman.
Belum pernah aku masuk ke dalamnya, jadi belum tahu apakah interiornya senyaman eksteriornya.

Sudah cukup lama juga aku kenal, baru sekarang tertarik masuk ke dalamnya.
Mari kita coba.
Dengan niat baik, hati yang mantap, aku datang.
Demi Tuhan, nyaman sekali berada di dekatnya.

Kuketuk pintu rumahnya.
Tok tok tok.
Tidak ada jawaban.
Tidak terdengar mungkin, pikirku.

Sekali lagi.
Tok tok tok tok tok.
Terdengar suara orang melangkah, pintu dibukanya sedikit.
Terima kasih Tuhan.

“Ah, kamu ternyata.” Ucap orang di dalam rumah itu.
Kalau eksterior rumahnya ku bilang nyaman, melihat orang ini jauh lebih nyaman.
Luar biasa.
“Hehe.”
Dia kenal aku rupanya.

Bukannya diajak masuk, aku diajaknya mengobrol dari luar. Dia di balik pintu, aku di depan pintu.
Kenapa ? pikirku.
Ya sudahlah, semua ada prosesnya.
Aku mengobrol dengannya. Lama.
Lama.

Tiba-tiba, pintu itu ditutup !
Dia pergi masuk ke dalam, tanpa izin tanpa salam.
Ada apa ini ?
Apa dia bosan ?
Apa aku terlihat terlalu memaksa masuk ?
Apa diriku terlalu kotor untuk masuk ke rumahnya ?
Aku bingung.
Kata apa itu yang sering disebutkan orang ?
Ah ya, aku galau.

Kuketuk lagi pintu itu. Pintu rumah nyaman itu.
Tok tok tok tok tok tok tok.
Tidak ada jawaban.
Kuketuk lagi,
Tok tok tok tok tok tok tok tok tok.
Tidak ada jawaban lagi.
Bahkan ada anjing menyalak-nyalak. Padahal tadi tidak ada.
Bahkan ada angin dingin menyeruak.
Bahkah hujan turun.
Aku diusir ?

Ketukan-ketukan pintuku tak digubris lagi sekarang.
Hujan semakin deras turun.
Hari pun sudah malam.
Sudah lama aku diam di sini.
Aku.. lelah.

Terlalu naif bila aku diam.
Dengan berat hati, kutinggalkan rumah itu.
Rumah nyaman itu.
Kutinggalkan sepucuk surat ini dengan harapan kau membacanya.

Rumahmu kutinggalkan, tapi tetap kukagumi.
Mungkin sesekali akan kupotongi rumput halamanmu ketika ia sudah liar.
Akan ku cat ulang dinding rumahmu ketika ia sudah mulai luntur.
Akan ku lap kaca jendelamu ketika ia sudah terkotori debu.
Semua kulakukan, dari luar, seperti sebelumnya.

Mungkin sesekali ketika ku tengok rumahmu, ada orang lain yang mengetuk pintu rumahmu dan masuk ke rumahmu.
Aku mungkin cemburu, mungkin juga senang.
Aku mungkin menyesal, sulit mencari rumah senyaman itu.
Atau mungkin tidak ada.
Tapi apapun yang terjadi, aku sayang rumah itu, rumah yang berjudul “Hati” di depannya.
Rumahmu tetap akan kupelihara,
kujaga,
dan kukagumi.
Dari luar.

.

.

.

Dari

.

Kejauhan.

.

.

Selamat, kamu orang ketiga yang saya jadikan puisi.

Terima kasih : )

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 468 other followers